KONSEP MANUSIA
KONSEP MANUSIA
Oleh : Ubaidah, S.Pd
Sesungguhnya dalam hidup manusia harus memiliki tujuan, baik ketika berada didunia maupun setelah kematiannya.
Dalam Bahasa Indonesia, manusia diartikan sebagai makhluk yang berakal budi (TPKP3B, 1997) Menurut M. Dawam Raharjo istilah manusia yang diungkapkan dalam al-Qur’an seperti basyar, insan, unas, ins, ‘imru’ atau yang mengandung pengertian perempuan seperti imra’ah, nisa’ atau niswah (Raharjo, 1999).
Ungkapan yang dipergunakan Al-Qur'an untuk menunjuk konsep manusia ada tiga macam yaitu : al - insan , 2) al - basyr , dan 3) bani Adam (Shihab, 1996).
1). Penggunaan kata al-insan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan identitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani yang memiliki keunikan dan keistimewaan serta kesempurnaan, kemudian memiliki perbedaan individual antara satu dengan yang lain, sehingga mampu menyandang gelar sebagai khalifah Allah di muka bumi, dan sebagai makhluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, serta lain sebagainya (Ali al-Syaukani, 1964).
Begitu juga dalam al-Qur’an kata al-insan digunakan untuk menunjukkan proses kejadian manusia setelah Adam diciptakan. Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna mulai dari alam rahim seorang ibu sampai dilahirkan kedunia, sebagaimana firman Allah: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Nahl/16: 78) Begitupun manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari jasad dan ruh. Hal yang mendasari bukanlah perubahan jasadnya, melainkan keruhaniannya. Sebagaimana firman Allah: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.(Q.S. al-Mu’minun/23: 12-14).
2). kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, termasuk eksistensi Nabi dan Rasul. Hanya saja kepada mereka diberikan wahyu, sedangkan kepada manusia umumnya tidak diberikan wahyu. Sebagaimana Firman Allah: “Katakanlah Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalahTuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya". (Q.S. al-Kahf/18: 110)
3). Manusia disebut sebagai bani Adam, karena manusia menunjukkan asal-usulnya yang bermula dari nabi Adam sehingga manusia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya, misalnya dari mana manusia diciptakan, untuk apa manusia hidup dimuka bumi ini, dan akan ke mana manusia dikembalikan. Istilah bani Adam menunjukkan bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Allah dari manusia yang pertama yaitu Adam. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur'an yaitu: “Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanNya): "Bukankah Aku tuhan kamu?" Mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini” (QS. Al-A‟raf, 7 : 172).
Manusia diciptakan semuanya mempunyai tujuan, bukan untuk kebaikan Allah, akan tetapi demi kebaikan untuk manusia sendiri. Manusia diciptakan untuk beribadah mematuhi setiap apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi semua apa yang dilarangan-Nya. Hal tersebut dapat digambarkan dari firman Allah: "Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku".(Q.S. al-Zariyat/51: 56). Untuk merealisasikan dengan baik tujuan penciptaan manusia, manusia dibekali Allah dengan akal agar dapat membedakan antara yang haq dan bathil, manusia juga diberi tuntunan yang bisa membantu akal dalam memahami tujuan penciptaannya yaitu al-qur'an dan sunnah-sunnah Nabi yang berfungsi untuk membimbing manusia pada kebenaran. Sebagaiman Firman Allah: “Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” Q.S. al-Mu’minun/23: 115
Berikut kajian Tafsir tentang penciptaan manusia sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi dikarenakan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi terdapat dalam: Q.S. Al-Baqarah [2]: 30, Q.S. Yunus [10]: 14, Q.S. Al-An’am [6]: 165, dan Q.S. Fathir [35]: 39). Dalam (Q.S. al-Tin [95]: 4) Keunggulan manusia atas makhluk-makhluk lain terletak pada wujud kejadiannya sebagai ahsani taqwim atau sebaik-baik ciptaan, baik dalam keindahan, kesempurnaan bentuk perawakannya, maupun dalam kemampuan maknawinya, baik intelektual maupun spiritual. Semua ini tidak serta merta menjadi keunggulan manusia atas makhluk lain tetapi harus diikuti oleh pemaksimalan potensi spiritual atau moral yang dimiliki manusia sehingga menjadi akhlak atau karakter mulia dalam kehidupannya sehari-hari.
Terkait dengan potensi yang dimiliki oleh manusia, Al-Qur'an juga memberikan penjelasan yang beragam. Misalnya dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 31, dijelaskan bahwa Allah memberikan pembelajaran kepada Adam (manusia) yang dalam waktu singkat Adam dapat menyebutkan semua nama-namayang ada di surga. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Adam, sebagai manusia pertama, memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan malaikat dan iblis yang ternyata tidak mampu menyebutkan semua nama-nama yang ada di surga. Kecerdasan Adam (manusia) ini merupakan potensi yang dapat berkembang dan juga sebaliknya. Potensi itu akan berkembang, dengan maksimal atau tidak, sangat tergantung pada pengalaman manusia, terutama dalam menempuh pendidikannya.
Potensi manusia yang lain seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur'an adalah bahwa setiap manusia dibekali oleh Allah dengan potensi tauhid (agama). Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur'an dengan persaksian yang diberikan oleh Allah kepada jiwa (ruh) yang ada pada setiap calon bayi yang masih dalam kandungan sang ibu. Semua jiwa itu mempersaksikan bahwa Allah sebagai Tuhannya. Demikian firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Tuhan mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. al-A’raf (7): 172)Oleh karena itu melihat Firman Allah diatas tugas kita sebagai seorang pendidik selalu mengingatkan kepada peserta didik kita bahwasanya kita sebagai hamba Allah masih memiliki hutang kepada Allah.
Berdasarkan uraian yang ada diatas, maka dapat diberikan kesimpulan bahwa konsep manusia yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an ketika berbicara tentang manusia terbagi menjadi 3 yaitu 1) al-insan, 2) al -basyar, 3) bani Adam.
.jpg)
Posting Komentar